Serangan penyakit pada tanaman padi terkadang baru benar-benar terlihat ketika tanaman mulai memasuki fase generatif. Salah satu yang pernah saya alami adalah munculnya jamur Ustilago pada padi, yang menyebabkan sebagian bulir pada malai berubah menjadi gumpalan berwarna mencolok dan tidak dapat berkembang menjadi gabah normal. |
| Serangan jamur Ustilago pada tanaman padi varietas Ciherang yang pernah saya alami saat musim penghujan. Tingkat serangan saat itu diperkirakan mencapai sekitar 15%. |
Sobat tani mungkin mengenalnya sebagai penyakit gosong palsu atau false smut. Serangan penyakit ini memang tidak selalu merusak seluruh tanaman, tetapi jika kondisi lingkungan mendukung, jumlah malai yang terserang dapat meningkat dan berpotensi menurunkan kualitas hasil panen.
Saya sendiri pernah mengalami serangan sekitar 15% pada tanaman padi varietas Ciherang saat musim penghujan. Dari pengalaman itulah saya mulai lebih memperhatikan hubungan antara kelembapan lahan, jarak tanam, pemupukan nitrogen, drainase, serta waktu pengendalian penyakit.
Pada artikel ini saya akan membahasnya berdasarkan pengalaman tersebut sekaligus beberapa prinsip pengendalian yang dapat diterapkan oleh sobat tani.
Apa Itu Jamur Ustilago pada Padi?
Penyakit yang sering disebut petani sebagai jamur Ustilago pada padi ditandai dengan terbentuknya gumpalan pada bulir padi. Bulir yang seharusnya berkembang menjadi gabah justru berubah menjadi massa spora.
Pada tahap awal, gumpalan tersebut dapat tampak berwarna kekuningan atau kehijauan. Seiring perkembangan penyakit, warnanya dapat berubah semakin gelap.
Serangan biasanya hanya mengenai sebagian bulir dalam satu malai, tetapi pada kondisi yang sangat mendukung perkembangan penyakit, jumlah malai yang terserang dapat menjadi lebih banyak.
Karena gejalanya muncul pada bulir, penyakit ini sering baru disadari petani ketika tanaman sudah mulai keluar malai.
Selain Ustilago, tanaman padi juga dapat terserang berbagai penyakit lain yang muncul pada fase pertumbuhan yang berbeda. Karena gejala setiap penyakit bisa terlihat mirip pada tahap awal, sobat tani sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis penyakit saja.
Untuk memahami beberapa penyakit penting lainnya yang sering ditemukan pada tanaman padi beserta gejala dan penyebabnya, sobat tani bisa membaca artikel Pandu Farm berikut:
Penyakit Utama pada Tanaman Padi
Dengan mengenali jenis penyakit sejak awal, tindakan pengendalian dapat dilakukan lebih tepat sesuai kondisi tanaman dan penyebab serangannya.
Pengalaman Pandu Farm Mengalami Serangan pada Varietas Ciherang
Saya pernah mengalami serangan jamur Ustilago pada tanaman padi varietas Ciherang saat musim penghujan.
Saat itu tingkat serangannya saya perkirakan mencapai sekitar 15%.
Setelah saya evaluasi, ada beberapa kondisi di lahan yang menurut pengamatan saya ikut mendukung munculnya serangan tersebut.
Pemupukan Susulan Kedua Terlambat
Biasanya saya melakukan pemupukan susulan kedua sekitar umur 20 HST atau hari setelah tanam.
Namun saat kejadian tersebut, pemupukan baru dapat dilakukan pada umur sekitar 28 HST.
Akibatnya, pemberian unsur hara terutama nitrogen menjadi cukup dekat dengan fase pertumbuhan berikutnya.
Saya tidak mengatakan bahwa keterlambatan pemupukan tersebut secara langsung menjadi satu-satunya penyebab munculnya Ustilago. Namun dari pengalaman di lahan, kondisi tanaman yang terlalu subur dan banyak menerima nitrogen pada waktu yang kurang tepat perlu diwaspadai, terutama ketika musim penghujan dan kelembapan tinggi.
Karena itulah sekarang saya lebih berhati-hati terhadap penggunaan nitrogen menjelang fase generatif.
Jarak Tanam Terlalu Rapat Saat Musim Penghujan
Faktor lain yang saya perhatikan adalah jarak tanam.
Pada musim penghujan, tanaman dengan jarak terlalu rapat cenderung menciptakan kondisi pertanaman yang lebih lembap karena sirkulasi udara di antara rumpun berkurang.
Kelembapan tinggi merupakan kondisi yang umumnya menguntungkan perkembangan berbagai penyakit jamur.
Berdasarkan pengalaman saya, untuk musim penghujan sebaiknya jarak tanam dibuat lebih dari 25 × 25 cm, terutama apabila kondisi tanah sangat subur.
Pada lahan yang subur, saya lebih menyukai jarak sekitar:
30 × 30 cm
khususnya pada musim penghujan.
Jarak tersebut bukan angka mutlak yang harus digunakan semua petani. Sobat tani tetap perlu menyesuaikannya dengan varietas, kesuburan tanah, sistem tanam, jumlah bibit per lubang, serta kondisi lingkungan masing-masing.
Namun pada lahan subur dengan musim yang lembap, memperlebar jarak tanam dapat membantu memperbaiki sirkulasi udara dan penetrasi sinar matahari ke bagian bawah tanaman.
Kondisi yang Dapat Mendukung Perkembangan Penyakit
Berdasarkan pengalaman lapangan dan karakter umum penyakit jamur pada tanaman padi, ada beberapa kondisi yang patut diperhatikan.
1. Kelembapan Tinggi
Musim penghujan membuat kelembapan udara dan lahan meningkat.
Apabila kondisi petakan terus-menerus basah dan pertanaman sangat rapat, lingkungan mikro di antara rumpun menjadi semakin lembap.
2. Pertumbuhan Tanaman Terlalu Rimbun
Tanaman yang memperoleh nitrogen berlebihan biasanya mempunyai pertumbuhan vegetatif yang sangat subur.
Daun menjadi lebih banyak dan tajuk semakin rapat.
Kondisi seperti ini dapat mengurangi sirkulasi udara sehingga kelembapan di sekitar tanaman bertahan lebih lama.
3. Drainase Lahan Kurang Baik
Petakan yang terus tergenang tanpa pengaturan air yang baik juga dapat membuat kondisi lahan terlalu lembap.
Karena itu pengaturan drainase menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan tanaman padi, khususnya pada musim penghujan.
4. Jarak Tanam Terlalu Rapat
Semakin rapat tanaman, semakin sulit udara bergerak di antara rumpun.
Pada kondisi cuaca lembap, hal ini perlu menjadi perhatian.
Langkah yang Saya Lakukan Saat Serangan Terjadi
Ketika mengetahui tingkat serangan mulai cukup tinggi, saya tidak hanya mengandalkan satu tindakan.
Ada beberapa langkah yang saya lakukan secara bersamaan.
1. Memperbaiki Drainase Lahan
Hal pertama yang saya lakukan adalah memperbaiki pembuangan air.
Saya berusaha memastikan air dapat keluar dari petakan dengan lebih baik sehingga kondisi lahan tidak terus-menerus terlalu basah.
Drainase yang baik sangat penting pada musim penghujan karena sumber air bukan hanya berasal dari irigasi, tetapi juga dari curah hujan.
2. Mengeringkan Petakan
Setelah drainase diperbaiki, air di petakan saya keluarkan.
Saya membiarkan kondisi lahan mengering hingga permukaan tanah mulai menunjukkan retakan.
Tujuan utama tindakan ini adalah mengurangi kondisi terlalu lembap di sekitar tanaman.
Namun teknik pengeringan seperti ini tetap harus disesuaikan dengan kondisi tanah, umur tanaman, ketersediaan air, serta cuaca setempat. Jangan menjadikan kondisi tanah retak sebagai aturan mutlak untuk setiap lahan.
3. Menghentikan Sementara Nutrisi Tinggi Nitrogen
Saat serangan berlangsung, saya menghentikan pemberian nutrisi tambahan yang mengandung nitrogen tinggi.
Saya tidak ingin tanaman menjadi semakin rimbun pada saat kondisi lingkungan sudah sangat lembap.
Pengelolaan nitrogen menurut saya menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan sobat tani dalam budidaya padi pada musim penghujan.
Nitrogen memang sangat dibutuhkan tanaman, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan dan kondisi tanaman.
Penggunaan Fungisida Saat Serangan
Pada pengalaman tersebut, saya juga melakukan aplikasi fungisida.
Produk yang saya gunakan saat itu adalah Nativo 75 WG, dengan kandungan bahan aktif:
- tebukonazol 50%
- trifloksistrobin 25%
Aplikasi saya lakukan menggunakan dosis sesuai petunjuk pada label produk.
Setelah perbaikan drainase, pengeringan petakan, penghentian sementara nutrisi tinggi nitrogen, dan aplikasi fungisida tersebut dilakukan, dari pengamatan saya perkembangan serangan baru berhenti dan tidak meluas seperti sebelumnya.
Namun saya perlu menekankan bahwa beberapa tindakan tersebut dilakukan dalam waktu yang berdekatan.
Karena itu saya tidak dapat menyimpulkan bahwa berhentinya perkembangan penyakit hanya disebabkan oleh fungisida.
Perbaikan kondisi lingkungan tanaman, pengaturan air, pengelolaan nutrisi, serta aplikasi fungisida kemungkinan sama-sama berperan dalam pengendalian yang saya lakukan saat itu.
Catatan Penting Mengenai Penggunaan Fungisida
Sobat tani perlu berhati-hati ketika menggunakan pestisida atau fungisida.
Selalu baca dan ikuti label produk yang berlaku, terutama mengenai:
- tanaman sasaran;
- organisme pengganggu tanaman sasaran;
- dosis atau konsentrasi;
- waktu aplikasi;
- interval aplikasi;
- penggunaan alat pelindung diri;
- interval keamanan sebelum panen;
- serta ketentuan penggunaan lainnya.
Registrasi dan rekomendasi penggunaan produk pestisida dapat berubah. Karena itu, penyebutan produk dalam artikel ini merupakan pengalaman penggunaan saya pada saat kejadian, bukan anjuran untuk menggunakan produk tertentu tanpa memperhatikan label yang berlaku.
Pencegahan Ustilago Lebih Baik daripada Menunggu Serangan
Setelah mengalami kejadian tersebut, saya justru lebih fokus pada pencegahan.
Menurut pengalaman saya, ada beberapa hal yang patut diperhatikan.
Atur Jarak Tanam Sesuai Musim
Pada musim kemarau, jarak tanam tertentu mungkin masih memberikan kondisi pertanaman yang cukup terbuka.
Tetapi pada musim penghujan, situasinya berbeda.
Curah hujan tinggi, kelembapan meningkat, dan pertumbuhan tanaman sering menjadi lebih rimbun.
Karena itu saya cenderung menggunakan jarak yang lebih lebar.
Pada lahan yang subur saya merekomendasikan untuk mempertimbangkan jarak sekitar 30 × 30 cm pada musim penghujan, tentu dengan penyesuaian terhadap kondisi masing-masing lahan.
Jangan Berlebihan Memberikan Nitrogen
Nitrogen merupakan unsur penting untuk pertumbuhan padi.
Namun lebih banyak pupuk nitrogen tidak selalu berarti hasil panen semakin tinggi.
Jika tanaman sudah sangat hijau dan rimbun, penambahan nitrogen perlu dilakukan dengan lebih hati-hati.
Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman.
Perhatikan Waktu Pemupukan
Jadwal pemupukan juga penting.
Dari pengalaman saya, keterlambatan pemupukan susulan kedua sampai umur 28 HST menjadi salah satu hal yang kemudian saya evaluasi setelah munculnya serangan.
Sejak saat itu saya lebih disiplin terhadap waktu pemupukan dan kondisi tanaman sebelum memutuskan memberikan tambahan nitrogen.
Sobat tani tidak harus mengikuti umur pemupukan yang sama persis karena kebutuhan setiap lahan bisa berbeda.
Gunakan umur tanaman, warna daun, kondisi pertumbuhan, varietas, kesuburan tanah, dan rekomendasi pemupukan setempat sebagai pertimbangan.
Perbaiki Sirkulasi Udara dalam Pertanaman
Jarak tanam yang cukup memberikan ruang bagi tanaman untuk tumbuh.
Selain itu, cahaya matahari dapat masuk lebih baik ke bagian bawah tanaman dan udara lebih mudah bergerak di antara rumpun.
Hal sederhana seperti ini menurut saya cukup penting pada musim penghujan.
Kelola Air dengan Baik
Tanaman padi memang membutuhkan air, tetapi bukan berarti petakan harus selalu tergenang tinggi.
Pengaturan irigasi dan drainase perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman serta kondisi cuaca.
Terutama pada musim hujan, pastikan terdapat saluran yang memungkinkan kelebihan air keluar dari lahan.
Apakah Bulir yang Sudah Terserang Bisa Kembali Normal?
Bulir yang sudah berubah menjadi gumpalan akibat serangan tidak akan kembali menjadi gabah normal.
Karena itu tujuan pengendalian bukan memperbaiki bulir yang sudah rusak, tetapi menekan perkembangan penyakit dan mengurangi risiko serangan yang lebih luas.
Inilah alasan mengapa pencegahan sangat penting.
Menunggu hingga sebagian besar malai menunjukkan gejala tentu jauh lebih sulit dibanding menjaga kondisi pertanaman sejak awal.
Pelajaran yang Saya Dapat dari Serangan Ustilago
Pengalaman mengalami serangan sekitar 15% pada varietas Ciherang memberikan saya pelajaran penting bahwa pengendalian penyakit tanaman tidak seharusnya hanya berfokus pada fungisida.
Kondisi lahan harus dilihat secara keseluruhan.
Pada kasus yang saya alami, saya mengevaluasi:
- waktu pemupukan;
- penggunaan nitrogen;
- jarak tanam;
- kelembapan;
- drainase;
- kondisi petakan;
- dan penggunaan fungisida.
Justru kombinasi pengelolaan inilah yang menurut saya lebih penting.
Fungisida dapat menjadi salah satu alat pengendalian ketika memang diperlukan, tetapi bukan satu-satunya solusi.
Kesimpulan
Jamur Ustilago pada padi dapat menjadi masalah terutama ketika kondisi pertanaman sangat lembap dan lingkungan mendukung perkembangan penyakit.
Pada pengalaman saya menanam varietas Ciherang di musim penghujan, tingkat serangan pernah mencapai sekitar 15%.
Saat itu saya melakukan perbaikan drainase, mengeringkan petakan, menghentikan sementara pemberian nutrisi tinggi nitrogen, serta menggunakan fungisida sesuai petunjuk label. Setelah tindakan tersebut dilakukan, perkembangan serangan baru tidak meluas seperti sebelumnya.
Dari pengalaman itu, sekarang saya lebih memperhatikan jarak tanam khususnya pada musim penghujan. Pada lahan subur saya cenderung memilih jarak sekitar 30 × 30 cm agar pertanaman tidak terlalu rapat.
Bagi sobat tani, pesan terpentingnya adalah jangan menunggu penyakit muncul baru melakukan pengendalian.
Atur jarak tanam, kelola pemupukan dengan baik, hindari nitrogen berlebihan, perbaiki drainase, dan selalu amati kondisi tanaman sejak awal.
Pengalaman setiap lahan tentu dapat berbeda. Karena itu jadikan pengalaman di Pandu Farm ini sebagai bahan pertimbangan, lalu sesuaikan kembali dengan kondisi sawah sobat tani masing-masing.
Kalau score untuk apa om, jamur atau yg lain? Tolong deskripsikan
BalasHapus