Perawatan Padi Saat Bunting: Pengairan, Pemupukan, Nutrisi dan Pengendalian OPT

Fase bunting merupakan salah satu periode penting dalam budidaya padi karena tanaman mulai beralih dari pertumbuhan vegetatif menuju pembentukan malai dan bulir. Berdasarkan pengalaman saya di sawah, pada fase ini kebutuhan tanaman perlu mendapat perhatian lebih, terutama dari sisi ketersediaan air, kecukupan nutrisi, serta pengamatan terhadap serangan hama dan penyakit. Jika perawatan terlambat atau kondisi tanaman terganggu pada fase ini, potensi hasil yang sudah terbentuk sejak awal pertumbuhan bisa ikut terpengaruh.

Perlakuan Khusus Saat Padi Bunting

Bagi sobat tani, umur tanaman memang dapat digunakan sebagai patokan awal. Namun, jangan hanya terpaku pada hitungan hari setelah tanam karena waktu memasuki fase bunting dapat berbeda tergantung varietas, umur varietas, kondisi lahan, cuaca, dan pertumbuhan tanaman.

Apa yang Dimaksud dengan Padi Bunting?

Padi dikatakan memasuki fase bunting ketika calon malai berkembang di dalam batang sebelum akhirnya keluar. Ini merupakan bagian dari perubahan tanaman dari fase vegetatif menuju fase generatif.

Di lahan yang saya kelola, tanda-tanda padi mulai bunting biasanya semakin mudah dikenali sekitar umur 60 hari. Batang mulai terlihat membesar dan daun bendera mulai muncul.

Namun umur tersebut bukan angka mutlak. Varietas padi yang berumur genjah tentu dapat memiliki waktu perkembangan yang berbeda dengan varietas yang berumur lebih panjang.

Karena itu, selain melihat umur tanaman, saya lebih menyarankan sobat tani memperhatikan kondisi fisik tanaman secara langsung.

Beberapa tanda yang biasa saya perhatikan antara lain:

  • bagian batang atas mulai terlihat membesar;
  • pertumbuhan vegetatif mulai melambat;
  • daun bendera mulai tampak;
  • tanaman mulai menunjukkan tanda akan membentuk dan mengeluarkan malai.

Pada fase inilah pengelolaan tanaman perlu lebih diperhatikan.

Mengapa Fase Menjelang Bunting Sangat Penting?

Ketika tanaman beralih dari fase vegetatif ke generatif, tanaman mulai menggunakan hasil fotosintesis dan unsur hara untuk mendukung pembentukan organ reproduktif, terutama malai.

Dari pengalaman saya, kondisi tanaman pada periode ini relatif sensitif terhadap gangguan.

Kekurangan air, kekurangan nutrisi, maupun serangan organisme pengganggu tanaman dapat menghambat kondisi tanaman pada saat calon malai sedang berkembang.

Salah satu gejala yang kadang saya jumpai ketika kondisi tanaman kurang optimal adalah bagian pucuk daun mulai sedikit menguning. Tanaman yang kondisinya lemah juga cenderung lebih mudah terganggu penyakit.

Karena alasan tersebut, menjelang dan saat padi bunting saya memberikan perhatian lebih pada tiga hal utama, yaitu air, nutrisi, serta pengamatan hama dan penyakit.

1. Tingkatkan Perhatian terhadap Pengairan

Kesalahan yang cukup sering saya jumpai adalah pola pengairan tidak disesuaikan ketika tanaman mulai memasuki fase generatif.

Pada fase sebelumnya petani mungkin masih cukup longgar dalam mengatur interval masuknya air. Tetapi menjelang bunting, saya biasanya meningkatkan perhatian terhadap interval pengairan agar tanaman tidak mengalami kekurangan air pada saat kebutuhannya sedang tinggi.

Bukan berarti sawah harus selalu digenangi air dalam setiap kondisi.

Kebutuhan air tetap harus disesuaikan dengan:

  • jenis dan kemampuan tanah menahan air;
  • kondisi cuaca;
  • curah hujan;
  • kondisi saluran irigasi;
  • serta fase pertumbuhan tanaman.

Intinya, jangan sampai tanaman mengalami cekaman kekeringan ketika calon malai sedang berkembang.

Di lahan saya, menjaga ketersediaan air pada fase ini merupakan salah satu perlakuan yang saya anggap penting.

2. Pemupukan Menjelang Bunting atau Fase Primordia

Perawatan padi saat bunting sebenarnya tidak dimulai ketika batang sudah terlihat besar. Saya sudah mulai memperhatikannya sejak menjelang fase tersebut.

Pada tanaman yang saya budidayakan, sekitar umur 45–55 hari setelah tanam, saya biasa memberikan pupuk NPK.

Dosis yang biasa saya gunakan sekitar:

5–7 kg NPK per 1.000 m² lahan.

Jika dikonversikan secara sederhana, jumlah tersebut setara dengan sekitar 50–70 kg per hektare.

Perlu saya tegaskan bahwa angka tersebut merupakan praktik yang saya terapkan di lahan saya, bukan dosis mutlak yang harus diterapkan di semua sawah.

Kebutuhan pupuk bisa berbeda tergantung kesuburan tanah, pemupukan sebelumnya, varietas, kondisi pertumbuhan tanaman, target produksi, dan jenis pupuk yang digunakan.

Karena itu, sobat tani tetap perlu menyesuaikannya dengan kondisi lahan masing-masing.

3. Nutrisi Tambahan Saat Menjelang Bunting

Selain pupuk melalui tanah, dalam praktik di lahan saya juga memberikan nutrisi tambahan melalui penyemprotan.

Salah satu yang biasa saya gunakan adalah MKP (Mono Potassium Phosphate).

Takaran yang biasa saya gunakan sekitar:

3 sendok makan MKP untuk satu tangki 16 liter air.

MKP mengandung fosfor dan kalium, dua unsur yang berkaitan dengan berbagai proses fisiologis tanaman pada fase generatif.

Namun sekali lagi, penggunaan tersebut saya sampaikan berdasarkan praktik yang saya lakukan sendiri.

Jenis produk, konsentrasi formulasi, kondisi tanaman, dan rekomendasi produsennya dapat berbeda. Oleh karena itu, jangan menjadikan takaran tersebut sebagai aturan tunggal tanpa melihat petunjuk penggunaan produk yang dipakai.

4. Waspadai Penggerek Batang Menjelang Malai Keluar

Perlakuan Khusus Saat Padi Bunting

Menjelang fase generatif, salah satu hama yang saya waspadai adalah penggerek batang padi.

Serangan penggerek batang pada fase generatif dapat menyebabkan gejala yang biasa dikenal petani sebagai beluk, yaitu malai keluar tetapi memutih dan gabah tidak berkembang normal akibat gangguan pada batang.

Dalam pengalaman saya di lapangan, salah satu bahan aktif insektisida yang pernah saya gunakan untuk pengendalian penggerek batang adalah klorantraniliprol.

Pada kondisi tertentu saya juga pernah menggunakannya bersama produk berbahan aktif abamektin.

Namun saya tidak menyarankan sobat tani menjadikan campuran tersebut sebagai resep wajib.

Sebelum menggunakan pestisida, lakukan pengamatan terlebih dahulu. Pastikan hama sasaran memang ada atau risiko serangannya memang memerlukan tindakan. Penggunaan dosis, kompatibilitas pencampuran, interval aplikasi, serta aturan keselamatan harus mengikuti label produk yang digunakan.

Menggunakan pestisida lebih banyak atau mencampurkan banyak bahan aktif belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.

5. Pengendalian Penyakit pada Fase Bunting

Selain hama, penyakit juga perlu diperhatikan.

Ketika kondisi tanaman sedang memasuki fase penting tetapi kesehatannya menurun, pembentukan malai tentu tidak berlangsung dalam kondisi ideal.

Dalam praktik saya, bahan aktif fungisida yang pernah digunakan antara lain:

  • difenokonazol, dan
  • azoksistrobin.

Pemilihannya tetap disesuaikan dengan penyakit dan kondisi tanaman yang ditemukan di lapangan.

Saya lebih menyarankan sobat tani tidak melakukan penyemprotan fungisida hanya berdasarkan jadwal tanpa mengetahui kondisi tanaman.

Periksa tanaman terlebih dahulu. Perhatikan adanya perubahan warna daun, bercak, perkembangan penyakit, kondisi kelembapan, dan riwayat serangan di lahan.

Dengan begitu penggunaan pestisida bisa lebih terarah.

Apakah Pestisida dan Nutrisi Bisa Dicampur Sekaligus?

Dalam praktik di lapangan saya memang pernah melakukan aplikasi insektisida, fungisida dan nutrisi dalam satu kegiatan penyemprotan.

Tetapi hal tersebut tidak berarti semua produk aman untuk dicampurkan.

Formulasi produk pertanian berbeda-beda. Campuran yang tidak kompatibel dapat menyebabkan larutan menggumpal, mengendap, menurunkan efektivitas bahan, bahkan berisiko menyebabkan tanaman mengalami fitotoksisitas.

Karena itu, apabila sobat tani akan melakukan pencampuran:

  • baca petunjuk pada label masing-masing produk;
  • hindari campuran yang dinyatakan tidak kompatibel;
  • gunakan dosis sesuai anjuran;
  • lakukan uji campur dalam jumlah kecil apabila diperlukan;
  • dan jangan menambah jumlah bahan hanya karena ingin sekali penyemprotan menyelesaikan semua masalah.

Pengalaman lapangan tetap penting, tetapi keselamatan tanaman dan pengguna pestisida harus menjadi pertimbangan utama.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Padi Bunting

Dari pengalaman saya, ada beberapa hal sederhana yang justru sering terlewat ketika tanaman memasuki fase ini.

Tidak menyesuaikan interval pengairan

Tanaman dibiarkan mengalami kekurangan air padahal sedang memasuki fase pembentukan malai.

Kurang memperhatikan kecukupan nutrisi

Petani terkadang menganggap seluruh pemupukan sudah selesai setelah tanaman tumbuh subur pada fase vegetatif.

Padahal tanaman masih membutuhkan unsur hara untuk mendukung fase generatif.

Terlalu berpatokan pada umur tanaman

Umur memang membantu sebagai panduan, tetapi kondisi tanaman jauh lebih penting.

Jangan beranggapan semua varietas pasti bunting pada umur yang sama.

Terlambat mengamati hama dan penyakit

Ketika gejala sudah berat, pilihan tindakan biasanya menjadi lebih terbatas. Saya lebih memilih melakukan pengamatan rutin sehingga perubahan pada tanaman dapat diketahui lebih awal.

Menganggap penyemprotan sebagai satu-satunya solusi

Padi yang sehat tidak hanya bergantung pada pestisida.

Pengairan, nutrisi, kondisi tanah, pemupukan sebelumnya, varietas, cuaca, dan pengamatan tanaman tetap mempunyai peranan besar.

Perhatikan Tanaman, Jangan Hanya Mengikuti Kalender

Menurut saya, salah satu pelajaran penting selama bertani adalah jangan memperlakukan tanaman hanya berdasarkan hitungan umur.

Umur 45, 50 atau 60 hari memang bisa menjadi pengingat bahwa tanaman mulai mendekati fase tertentu. Namun kondisi nyata di sawah tetap menjadi pegangan utama.

Saya sendiri menggunakan umur tanaman sebagai patokan, kemudian memastikan kembali melalui tanda-tanda fisiknya.

Menjelang primordia sekitar umur 45–55 hari, saya mulai memperhatikan pemupukan dan kondisi tanaman. Ketika batang mulai membesar serta daun bendera muncul, perhatian terhadap pengairan, nutrisi, hama, dan penyakit semakin saya tingkatkan.

Kesimpulan

Perawatan padi saat bunting bukan sekadar melakukan penyemprotan atau memberikan pupuk tambahan. Fase ini perlu dilihat sebagai satu rangkaian pengelolaan tanaman.

Berdasarkan pengalaman saya, hal yang paling saya perhatikan adalah menjaga ketersediaan air, memberikan NPK menjelang fase bunting sesuai kondisi tanaman, memberikan nutrisi tambahan bila diperlukan, serta melakukan pengamatan terhadap hama dan penyakit secara rutin.

Apa yang saya lakukan di lahan tentu tidak harus diterapkan persis sama oleh semua sobat tani. Kondisi tanah, varietas, cuaca, pola pemupukan, dan tekanan OPT setiap daerah dapat berbeda.

Gunakan pengalaman ini sebagai bahan pertimbangan, kemudian sesuaikan dengan kondisi sawah masing-masing. Karena pada akhirnya, tanaman yang kita lihat langsung di lapanganlah yang paling banyak memberikan petunjuk tentang apa yang sedang dibutuhkannya.



Posting Komentar untuk "Perawatan Padi Saat Bunting: Pengairan, Pemupukan, Nutrisi dan Pengendalian OPT"